berkurban perasaan, refleksi pelajaran bulan dzulhijjah
di ujung bulan yang agung,
refleksi pelajaran dzulhijah 1447
berkurban perasaan untuk keta'atan,
mengambil ibroh hadits 41
inti pengorbanan nabi Ibrahim as adalah berkurban perasaan, yakni berkurban hawa nafsu untuk menjalankan ketaatan kepada Allah , berkurban hawa nafsu untuk menjalankan amal mencari Ridho Allah
ketika suatau saat fitrah yang mubah itu yang sudah memang fitrah itu bertemu dengan bentrok pilihan dengan ketaatan kepada Allah maka dilakukan amal yang merupakan amal ketaatan kepada Allah
masyaAllah..ini adalah inti kurban
yakni mengurbankan perasaan, mengurbankan hawa nafsu, mengurbankan keinginan jiwa untuk kemudian menjalankan amal ketaatan kepada Allah, untuk menjalankan amalan yang secara ilmu itu adalah diridhoi oleh Allah..
**
Jiwa inginnya malas, inginnya menunda pekerjaan, tapi ia mengetahui bahwa Allah menyukai amal baik yang disegerakan, maka kemudian jiwa itu pun tunduk berkurban sehingga ia melakukan tindakan menyegerakan pekerjaan
Jiwa inginnya bekerja asal-asalan dalam menunaikan pekerjaan, tapi ilmu menunjukkan bahwa Allah mewajibkan ihsan dalam setiap pekerjaan, "Innallaaha katabal ihsaana 'alaa kulli syai'"maka ia pun menundukkan jiwa, ia berkurban perasaan keinginan asal asalan dan ia melakukan tindakan yang ihsan dalam pekerjaan melakukan yang terbaik yang mungkin, doing the job at the best possible quality
Jiwa inginnya berlebihan, menggunakan hampir seluruh waktu untuk bergelut dengan pekerjaan, karena rasa cintanya pada pekerjaan, tapi ilmu menunjukkan, bahwa seorang haruslah memperhatikan pula hak-hak lainnya, "Sesungguhnya tubuhmu memiliki hak atasmu, matamu memiliki hak atasmu, dan istrimu (keluargamu) memiliki hak atasmu."
Jiwa inginnya hanya beramal beramal beramal dan tidak mau peduli dengan amal tholabul 'ilmi, tapi ilmu menunjukkan bahwa diantara amal yang tidak kalah prioritas adalah tholabul 'ilmi , belajar ilmu, man salaka thoriiqon yaltamisu fiihi 'ilman sahhalallaahu bihii thoriiqon ilal jannah..menjaga keseimbangan amal adalah keniscayaan agar tidak berlebihan, karena Allah tidak menyukai amal yang berlebihan yakni amal yang menjadikan hak lainnya terabaikan. walaa tusrifuu, innahuu laa yuhibbul musrifiin (surah al-A'raf:31)
Jiwa inginnya hanya menjalani waktu alakadarnya, seberjalannya, tapi ilmu menunjukkan bahwa aktivitas harus diperhatikan, amal prioritas apa yang harus dilakukan, ibadah apa yang harus dilakukan, bagaimana waktu yang ada agar bisa dibelanjakan untuk membeli amal, dengan amal yang terbaik yang dapat dilakukan. "liyabluwakum ayyukum ahsanu 'amala" sehingga tampak jelas bahwa waktu harian itu harus dikelola dengan sebaiknya, dibikin kejelasan mau apa saja hari ini apa saja yang perlu dilakukan hari ini, agar amal terbaik bisa hadir setiap harinya sesuai kondisi aktivitas yang ada; untuk setiap momen pasti ada amal terbaik yang dapat dilakukannya
masyaAllah..
**
inti kurban adalah menjadikan perasaan atau hawa nafsu itu bisa tunduk pada ketentuan Allah, ketika pada suatu saat terjadi pilihan antara perasaan dan ilmu Allah maka didahulukanlah untuk menjalankan ilmu dan ketentuan dari Allah
Billaahi taufiq wal hidaayah..Laa haula walaa quwwata illaa billaah...
Belum ada Komentar untuk "berkurban perasaan, refleksi pelajaran bulan dzulhijjah"
Posting Komentar