kemudahan yang melenakan kemudahan yang mempercepat

Kemudahan: Jalan Menuju Kemalasan atau Lompatan Menuju Kemajuan?

Pernahkah kita menyadari bahwa sesuatu yang memudahkan hidup ternyata bisa membuat kita semakin malas? Namun, di sisi lain, kemudahan yang sama justru bisa membuat seseorang melesat jauh lebih cepat dalam meraih cita-citanya.

Teknologi, misalnya. Dahulu, mencari informasi membutuhkan waktu berjam-jam dengan membuka banyak buku. Kini, informasi bisa diperoleh dalam hitungan detik. Dahulu, menulis harus dilakukan dengan proses yang panjang. Kini, berbagai alat bantu dapat mempercepat proses menulis. Banyak pekerjaan yang dahulu terasa berat, sekarang menjadi jauh lebih ringan.

Namun, muncul sebuah pertanyaan penting: Apakah kemudahan membuat kita semakin produktif, atau justru semakin kehilangan semangat untuk berusaha?

Jawabannya ternyata tidak terletak pada kemudahan itu sendiri, melainkan pada bagaimana kita menggunakannya.

Bagi orang yang terlena, kemudahan adalah pintu menuju kemalasan. Karena semuanya terasa mudah, ia merasa tidak perlu bersungguh-sungguh. Karena ada alat yang bisa membantu, ia tidak lagi mau belajar. Karena pekerjaan bisa diselesaikan dengan cepat, ia memilih menghabiskan waktu untuk hal-hal yang kurang bermanfaat. Akhirnya, kemudahan yang seharusnya menjadi kendaraan menuju kemajuan justru berubah menjadi jebakan yang menghambat pertumbuhan.

Sebaliknya, bagi orang yang memiliki tujuan, kemudahan adalah peluang emas. Waktu yang berhasil dihemat digunakan untuk belajar lebih banyak. Tenaga yang berhasil disimpan dialihkan untuk menghasilkan karya yang lebih baik. Pekerjaan yang dapat diselesaikan dengan cepat menjadi kesempatan untuk mengerjakan hal-hal lain yang lebih bermakna.

Orang yang terlena menggunakan kemudahan untuk mengurangi usaha, sedangkan orang yang bertumbuh menggunakan kemudahan untuk memperbesar hasil.

Bayangkan dua orang yang sama-sama memiliki akses terhadap teknologi canggih. Orang pertama menggunakannya untuk menghabiskan waktu tanpa arah. Orang kedua menggunakannya untuk memperdalam ilmu, mengembangkan keterampilan, dan menghasilkan karya. Fasilitas mereka sama, tetapi hasil yang mereka peroleh bisa sangat berbeda.

Mengapa demikian? Karena alat yang sama tidak menjamin hasil yang sama. Ada faktor yang jauh lebih menentukan, yaitu tujuan, pola pikir, kedisiplinan, dan kesungguhan penggunanya.

Di sinilah kita perlu berhati-hati. Jangan sampai kemudahan membuat kita kehilangan kemampuan untuk berjuang. Jangan sampai alat yang seharusnya membantu kita berpikir justru membuat kita berhenti berpikir. Jangan sampai teknologi yang seharusnya memperluas produktivitas justru mempersempit waktu kita untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat.

Kemudahan bukanlah alasan untuk menurunkan kualitas diri. Justru, semakin banyak kemudahan yang kita miliki, semakin besar pula peluang untuk meningkatkan kualitas karya dan kontribusi kita.

Jika dahulu kita membutuhkan tiga jam untuk menyelesaikan suatu pekerjaan, lalu kini cukup satu jam, jangan buru-buru menggunakan dua jam sisanya untuk bermalas-malasan. Gunakan waktu tersebut untuk belajar sesuatu yang baru, membantu orang lain, menyelesaikan tanggung jawab berikutnya, atau mengembangkan potensi yang selama ini belum tergarap.

Tentu saja, beristirahat bukanlah kemalasan. Istirahat tetap diperlukan agar kita dapat menjaga kesehatan dan keberlanjutan aktivitas. Yang perlu diwaspadai adalah ketika kemudahan membuat kita terus memilih kenyamanan hingga melupakan tanggung jawab dan kesempatan untuk bertumbuh.

Mari kita ingat, waktu dan kemampuan merupakan amanah yang perlu dimanfaatkan dengan baik. Allah Swt. berfirman dalam Surah Al-Insyirah ayat 7:

فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ

“Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain).”

Ayat ini mengingatkan kita agar tidak berhenti pada satu pencapaian. Ketika satu urusan telah selesai, masih ada ruang untuk melakukan kebaikan berikutnya. Bukan berarti kita harus bekerja tanpa jeda, melainkan agar hidup kita tidak kehilangan arah dan kesempatan untuk terus memberi manfaat.

Maka, persoalannya bukan semata-mata seberapa canggih teknologi yang kita miliki, seberapa lengkap fasilitas yang tersedia, atau seberapa mudah pekerjaan dapat diselesaikan. Persoalan yang lebih mendasar adalah: Apa yang kita lakukan dengan semua kemudahan itu?

Apakah kita menggunakannya untuk menghindari proses belajar, atau untuk mempercepat penguasaan ilmu?

Apakah kita memanfaatkannya untuk mengurangi tanggung jawab, atau untuk memperbesar kontribusi?

Apakah kita menjadikannya alasan untuk berleha-leha, atau sebagai modal untuk menghasilkan karya yang lebih bermakna?

Pilihan itu ada di tangan kita.

Jangan hanya menjadi penikmat kemudahan. Jadilah pengelola kemudahan yang bijaksana. Jangan sekadar menikmati kemajuan zaman. Jadilah orang yang mampu memanfaatkan kemajuan zaman untuk menciptakan kemajuan bagi dirinya dan orang lain.

Sebab, kemudahan tidak otomatis menjadikan seseorang maju, sebagaimana kesulitan tidak otomatis menjadikan seseorang tertinggal. Yang menentukan adalah bagaimana seseorang menyikapi keadaan dan mengambil manfaat darinya.

Pada akhirnya, kemudahan adalah sebuah kesempatan. Ia bisa menjadi pintu yang membuat kita terlena, tetapi bisa pula menjadi tangga yang mengantarkan kita menuju pencapaian yang lebih tinggi.

Jangan biarkan kemudahan mencuri semangatmu. Jadikan ia pengungkit untuk melompat lebih jauh, berkarya lebih banyak, belajar lebih dalam, dan memberi manfaat lebih luas.

Ketika jalan semakin mudah, jangan justru mengurangi langkah. Manfaatkan kemudahan itu agar perjalananmu semakin jauh dan tujuanmu semakin cepat tercapai.

Karena yang terpenting bukan hanya kemudahan apa yang kita miliki, melainkan kemajuan apa yang berhasil kita hasilkan dari kemudahan tersebut.

 

**

kemudahan yang ada bisa melenakan sehingga membuat malas
kemudahan yang ada bisa mempercepat pencapaian

kembali lagi kepada penggunanya,mau yang mana manfaat yang diambil

**


Belum ada Komentar untuk "kemudahan yang melenakan kemudahan yang mempercepat"

Posting Komentar

Postingan Populer

terapi melatih karakter rajin dengan cara merajinkan diri dalam bersih-bersih rapi rapi

 tampaknya salah satu cara yang bisa dilakukan membuat karakter rajin dalam mengerjakan tugas dalam mengerjakan pekerjaan yang sifatnya ditu...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel